SMUpdate

Petisi Cabut Nobel Suu Kyi Terus Tuai Dukungan

foto: ISTIMEWA

foto: ISTIMEWA

JAKARTA, suaramerdeka.com – Petisi online untuk mendesak pencabutan Nobel Perdamaian untuk pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi terus bertambah. Hingga Minggu (3/9) sore penandatangan petisi yang dibuat aktivis kemanusiaan dan antikorupsi Indonesia, Emerson Yuntho, sudah mendekati 300 ribu orang, yakni 273.751 orang.  Sejumlah aktivis ikut mendukung petisi ini.

Di antaranya pegiat antikorupsi dari Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) UGM, Zainal Arifin Mochtar, Mantan menteri Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Andrinof A Chaniago, politisi PAN Teguh Juwarno dan Didik J. Rachbini, politisi Partai Golkar Happy Bone Zulkarnain.

Kemudian budayawan Goenawan Mohamad, pengamat politik sosial Fachry Ali, tokoh media seperti Wishnutama, Grace Natalie, Isyana Bagoes Oka dan Tina Talisa, dan sejumlah nama lain seperti Yunarto Wijaya, Fadjroel Rachman, Ray Rangkuti, dan Ifdhal Kasim.  “Kami meminta semua orang yang mencintai perdamaian dan menentang kekerasan dan pembunuhan terhadap etnis Rohingya untuk mendukung dan memperkuat petisi ini,” ajak Emerson dalam petisinya di laman www.change.org.

Rencanantya Petisi itu akan disampaikan kepada Komite Novel Norwegia 2016. Mereka yang akan dikirimi adalah Ketua Komite, Kaci Kullman Five, Deputy Ketua Berit Reiss-Andersen dan empat anggota Komite Nobel lainnya, yakni  Inger-Marie Ytterhorn, Henrik Syse, Thorbjørn Jagland dan Olav Njolstad.

Mengawali petisinya Emerson menulis bahwa dalam beberapa waktu terakhir, militer Myanmar di bawah pemerintahan Aung San Suu Kyi dikabarkan melakukan pembantaian besar-besaran kepada warga Muslim Rohingya di wilayah Rakhine, Myanmar. Menurut laporan yang ada, warga Muslim Rohingya dikabarkan dibunuh dan disiksa secara fisik. Perempuan dan anak-anak juga merupakan korban dari pembantaian tersebut.

Data dari European Rohingya Council (ERC) menyebutkan bahwa 3.000 Muslim Rohingya terbunuh selama tiga hari, pada tanggal 25-27 Agustus lalu. Desa tempat mereka tinggal pun dibakar. Militer pemerintahan berdalih bahwa ini merupakan upaya memberantas terorisme. “Hingga detik ini, pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi tidak melakukan upaya apapun untuk menghentikan kejahatan kemanusiaan yang terjadi di negerinya itu,” protesnya.

Akibatnya, kini banyak warga Muslim Rohingya yang mengungsi dan terdampar di perbatasan Bangladesh.

(Fauzan Jayadi / CN26 / SM Network)

Berita Terkait

Back to Top
Sedang memproses... Mohon tunggu...
Loading...
Load time: 0.0882 second..