SMUpdate

Di Aceh Kurangi “Diksi Keras” Terorisme Jadi Radikalisme

Ilustrasi: istimewa

Ilustrasi: istimewa

BANDA ACEH, suaramerdeka.com – Sebagai mitra strategis Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di daerah, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh turut serta melakukan berbagai upaya dalam mencegah penyebarluasan paham radikal terorisme. Melalui media massa pers, mereka meminta penggunaan “diksi keras” dalam pemberitaan mulai dikurangi.

Ketua FKPT Aceh, Yusny Saby, saat mendampingi tim dari BNPT mengatakan, diksi keras dalam pemberitaan yang dimaksud antara lain kata terorisme. “Kami terus sosialisasikan, meminta media massa maksimal menggunakan kata radikalisme,” kata Yusny.

Dijelakan oleh Yusny, terorisme merupakan imbas dari paham radikalisme dan sikap radikal dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Penggunaan diksi keras dalam pemberitaan dikhawatirkan akan menambah tekanan ke pendengar atau pembaca berita di media massa pers.

Ketua Dewan Pers, Yoseph Adi Prasetyo, yang hadir sebagai pemateri di kegiatan Visit Media BNPT dan FKPT Aceh ke redaksi media massa pers, mengatakan dalam konteks Aceh saran penggunaan diksi keras dikurangi dapat dibenarkan. Catatan sejarah masa lalu disebutnya sebagai alasan pembenaran. “Aceh memiliki sejarah masa lalu yang kelam, salah satunya GAM yang sempat dituding sebagai terorisme. Apa yang disarankan FKPT Aceh ada benarnya,” kata Yosep.

Stanley, demikian Yosep Adi Prasetyo disapa di kesehariannya, menilai apa yang disosialisasikan FKPT Aceh sudah tertuang dalam Pedoman Peliputan Terorisme, aturan bersama terkait pemberitaan seputar terorisme yang merupakan hasil kerja sama BNPT dan Dewan Pers. “Pers diminta tidak melakukan glorifikasi dalam pemberitaan, salah satunya pemilihan diksi yang lembut dan tidak menyudutkan pihak-pihak tertentu,” jelas Stanley.

(A Adib / CN26 / SM Network)

Berita Terkait

Back to Top
Sedang memproses... Mohon tunggu...
Loading...
Load time: 0.1508 second..